Faktor Penentu Kelulusan SNMPTN & Jalur Undangan Mandiri

Untuk lulus dan masuk di jurusan favorit kampus PTN terbaik di Indonesia adalah sebuah impian bagi siswa/i kelas 12 SMA/MA/SMK. Memang untuk lulus menjadi mahasiswa/i di kampus PTN itu berat tapi tidak ada yang mustahil. Ada 2 gerbang utama untuk lulus menjadi mahasiswa/i kampus PTN yakni jalur undangan dan jalur ujian tulis.

Untuk tahap pertama kali ini yang akan saya bahas adalah tentang jalur undangan. Saat ini dikenal dengan nama SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) atau istilah jaman generasi old dikenal jalur PMDK. Tidak hanya SNMPTN,khusus di kampus Universitas Indonesia (UI) ada tambahan jalur undangan dengan nama PPKB dan Talent Scouting. Bedanya apa ya antara SNMPTN,PPKB dan TALENT SCOUTING? Serupa tapi tak sama, klo SNMPTN itu jalur undangan ke jenjang S1 reguler yang biasanya masih ada subsidi pemerintah, klo PPKB itu jalur undangan ke S1 Pararel dan D3 vokasi, terakhir TALENT SCOUTING untuk jalur undangan ke S1 Kelas Internasional. Bedanya antara S1 reguler,pararel dan kelas internasional yakni dari segi biaya kuliah dan tidak semua S1 reguler membuka S1 pararel dan kelas internasional. Khusus kelas internasional juga harus dilengkapi dengan berkas tes TOEFL min 500.

Hal pertama yang mesti PEJUANG PTN pahami jika ingin memaksimalkan penilaian SNMPTN adalah PEJUANG PTN mesti tahu nih apa aja sih yang dinilai di SNMPTN itu. Selama ini banyak yang menganggap kalo SNMPTN itu ya cuma bagus-bagusan nilai raport, sehingga banyak sekolah yang naikin nilai KKMnya atau “meninggi-ninggikan” nilai siswanya. Banyak anak dari Sekolah antah berantah nilai Fisika atau Ekonominya 95 atau mendekati 100. Sementara di sisi lain, anak-anak dari sekolah tertentu yang cenderung disiplin pada sistem penilaian pada ngeluh karena dapet nilai 85 di sekolahnya saja susahnya minta ampun.

Nah kalo bukan nilai raport apa dong factor untuk masuk ke UI atau PTN lewat penilaian SNMPTN?

Setiap sekolah mempunyai standar berbeda-beda mengenai nilai. Ada yang standarnya tinggi ada yang rendah. Ada juga yang dulunya pelit ngasih nilai, tapi berhubung SNMPTN memakai nilai raport, maka nilai-nilainya pada diobral. Berdasarkan hal tersebut, kalo PTN cuma melihat mentah-mentah nilai raport, tentu siswa yang lolos belum diseleksi secara fair. Maka dari itu, selain nilai raport dilihat juga faktor lain, yaitu: indeks sekolah. Dalam kalimat lain, PTN pun selain melihat nilai yang ada di raport juga akan melihat siapa pihak yang mengeluarkan raportnya (asal Sekolah,-red).

Okay, kalo sekarang kita bicara soal indikator seleksi SNMPTN, sebenernya penilaian SNMPTN dilakukan secara tertutup, jadi indikator penilaian tidak akan dipublikasikan secara rinci. Nah dari beberapa kriteria penilaian di atas, gue udah nyoba ngerangkum semua hal yang bisa jadi kriteria penilaian. Secara umum PTN lain akan menggunakan cara yang kurang lebih sama dalam menilai berkas-berkas pendaftaran kalian, meskipun tiap PTN bakal punya kebijakan tersendiri yah. Berikut ini beberapa hal yang (kemungkinan besar) menjadi kriteria penilaian SNMPTN.

1. FAKTOR KUALIFIKASI SISWA

Merupakan capaian siswa selama sekolah, dengan beberapa poin yang bisa menjadi penilaian antara lain:
  1. Nilai raport, meliputi besar nilai, konsistensi, rata-rata, nilai mapel tertentu. Nah untuk PTN ternama lebih menyukai peserta SNMPTN yang mempunya status nilai yang progress alias naik terus bukan yang naik turun seperti detak jantung. Selain itu peserta juga harus memperhatikan matpel tertentu jika ingin lulus di jurusan favorit di PTN terbaik di Indonesia,contohnya peserta yang target ke FK menitikberatkan ke pelajaran matematika,biologi dan kimia serta Bahasa inggris sebagai nilai pelengkap. Klo peserta IPS contohnya jurusan akuntansi/manajemen berarti menitikberatkan ke matematika,ekonomi dan Bahasa inggris. Selain pelajaran tersebut,peserta juga harus memperhatikan pelajaran yang lain.
  2. Prestasi siswa: piagam tingkat internasional, nasional, propinsi, kabupaten/kota, tidak ada prestasi. Nah ini sebagai nilai tambah bagi peserta SNMPTN supaya peluang untuk lulus SNMPTN jadi besar. Apalagi klo peserta bisa dapat medali emas/perak/perunggu tingkat nasional dan internasional,beuhh ini bakalan jadi rebutan dari kampus PTN ternama.
  3. Nilai Ujian Nasional (sesuai dengan Surat Edaran Menteri terbaru). Ini sebenarnya panitia hanya melihat status LULUS atau TIDAKNYA Peserta dari Ujian Nasional, sedangkan untuk nilai itu ada beberapa PTN yang juga mempertimbangkannya biasanya terkait jatah lokal dan beasiswa.

2. FAKTOR INDEKS SEKOLAH

Ini faktor yang jarang diketahui oleh pihak orangtua yakni perihal indeks sekolah. Ini perlu peran aktif orangtua dan peserta. Indeks sekolah merupakan nilai sekolah di suatu PTN. Indeks SMA X di PTN A bisa berbeda dengan indeks SMA X di PTN B. Beberapa poin yang bisa menjadi penilaian untuk kategori ini antara lain:

  1. Akreditasi: A, B, C, Tanpa akreditasi. Semakin bagus akreditasi SMA bersangkutan,maka semakin besar kuota yang diajukan pihak sekolah ke PTN.
  2. IPK dan prestasi alumni di PTN yang dituju di PTN yang bersangkutan
  3. Nilai SNMPTN tahun sebelumnya di PTN yang bersangkutan
  4. Banyak sedikitnya alumni diterima di SNMPTN tahun sebelumnya di PTN yang bersangkutan
  5. Track record sekolah di PTN yang bersangkutan. Ini berhubungan dengan alumni. Contohnya di tahun sebelumnya ada alumni SMA X yang menolak registrasi ulang ketika dinyatakan lulus SNMPTN di PTN A nah ini yang akan membuat kampus PTN tersebut “murka” terhadap SMA X dan mempunyai efek negative terhadap indeks sekolah jadi turun. Hal ini membuat jatah kuota PTN A untuk SMA X jadi berkurang.
  6. Prestasi sekolah dalam perlombaan tingkat daerah/nasional/internasional.

3. FAKTOR PEMERATAAN DAERAH

Merupakan kebijakan PTN untuk memberikan kuota/jatah kepada daerah yang kelak setelah lulus diharapkan bisa memajukan/berkontribusi untuk daerah asal. Jadi bisa jadi beberapa siswa di daerah di Indonesia mendapatkan “jatah” daerah, meskipun sebetulnya nilai raport dan indeks sekolah mereka relatif tidak sebaik para pesaing peserta SNMPTN lain yang ada di kota besar.

Perlu diingat bahwa faktor penilaian yang telah saya rangkum di atas merupakan perpaduan dari berbagai PTN. Artinya bisa saja PTN A ga memperhitungkan Nilai SNMPTN tahun sebelumnya misalnya atau PTN B tidak memperhitungkan Prestasi Sekolah, atau bahkan ada kriteria penilaian lain di luar poin di atas. Tapi pada umumnya kurang lebih udah saya jabarkan di atas.

Kalau kamu memang sangat ingin lulus PTN melalui jalur SNMPTN, ada baiknya kamu memilih PTN yang ada atau dekat dengan kotamu. Biasanya, PTN akan lebih memberikan kuota terlebih dahulu kepada sekolah yang satu kota dengannya. Hal itu dikarenakan, lebih memudahkan PTN untuk melacak dan meverifikasi data calon mahasiswanya. Adapun, PTN akan memprioritaskan bibit-bibit di kotanya terlebih dahulu ketimbang mencari bibit-bibit unggul dari kota lainnya.

Bila di kotamu belum ada PTN, kamu bisa mendaftarkan diri pada PTN yang ada di provinsi tempat kamu tinggal. Tentunya, sekolahmu akan masuk penjaringan PTN untuk basis lingkup provinsi. Dengan begitu, persentase diterimanya kamu pada PTN itu jauh lebih besar daripada peserta SNMPTN dari kota lainnya. Selain itu, dengan memilih kota yang dekat dengan rayon sekolahmu akan memudahkanmu ketika melakukan pelengkapan pemberkasan untuk pendaftaran SNMPTN.

Nah setelah factor di atas,masih ada lagi yang harus diperhatikan. Berikut yang harus diperhatikan oleh PEJUANG PTN.

4. FAKTOR LAIN YANG BERPENGARUH

Perhatikan Jumlah Peminat dan Daya Tampung masing-masing prodi.

Hati-hati, jumlah peminat yang sedikit belum tentu persaingannya ringan. Lihat dulu data daya tampung prodi tersebut. Informasi ini sebenarnya tidak banyak di-publish, tapi bukan bersifat rahasia. Jadi silakan anda menghubungi perguruan tinggi yang anda tuju untuk mendapatkan data ini.

Perhatian: Ada beberapa prodi favorit di beberapa PTN (dianggap favorit pula), dan saking favoritnya banyak siswa yang akhirnya takut mendaftar prodi tersebut. Akibatnya, persaingan di prodi tersebut justru menjadi tidak terlalu berat (di kisaran rasio 1:48). Rasio ini tidak terlalu tinggi untuk sebuah prodi yang sangat di-favorit-kan.

Perhatikan para pesaing anda dari satu sekolah.

Diusahakan jangan sampai ada pesaing yang memilih program studi yang sama di PTN yang sama dari satu sekolah anda. Kalaupun ada, usahakan anda bisa mengetahui bahwa nilai teman anda tersebut (lebih rendah dari nilai anda). Teman satu sekolah bisa menjadi pesaing anda di SNMPTN. Karena mau tidak mau beberapa (banyak) perguruan tinggi harus menerapkan sistem kuota per sekolah. Kalau tidak ada sistem kuota, sebuah PTN bisa-bisa hanya akan menerima mahasiswa baru yang berasal dari belasan sekolah saja.

So, perhitungkan masak-masak jika banyak teman satu sekolah anda memilih perguruan tinggi dan prodi yang sama persis dengan anda.

Buat urutan pilihan prodi di SNMPTN.

Ini super penting dan sangat kritikal, serta butuh strategi yang matang untuk menentukan urutan prodi ini. Sesuai aturan, anda bisa memilih 3 prodi dari 2 PTN yang berbeda. Misalnya anda memilih Prodi Teknik Industri di PTN A, Prodi Teknik Industri di PTN B, serta Prodi Teknik Elektro di PTN A. Siswa pelamar akan diseleksi oleh PTN pilihan pertama berdasarkan urutan pilihan program studi. Anda memilih dua PTN (A dan B), apabila dinyatakan tidak lulus pada pilihan pertama yaitu Teknik Industri PTN A, maka akan diseleksi di PTN pilihan kedua berdasarkan urutan pilihan program studi dan pertimbangan daya tampung.

Sekali lagi, daya tampung akan sangat berpengaruh pada proses ini. Dengan mekanisme tersebut, anda pasti bertanya “Apakah Teknik Industri PTN B tidak mau dijadikan pilihan kedua?”. Hehe, ini bukan tentang lagu (“Aku bukan yang kedua”). Jadi jawabannya adalah bukannya tidak mau, tapi prodi tersebut mungkin sudah penuh terisi oleh pendaftar yang memilih Teknik Industri PTN B sebagai pilihan pertama. Jadi, walaupun nilai anda bagus dan anda tidak lulus di pilihan 1, meskipun berpotensi lulus di pilihan 2, jika kuota di pilihan 2 tersebut sudah penuh terisi oleh yang menempatkannya di pilihan 1, maka ada kemungkinan anda tetap saja tidak bisa lulus di pilihan 2 karena daya tampung sudah terpenuhi.

Dari pengalaman selama ini, sebuah prodi biasanya tidak akan serta merta langsung memenuhi daya tampung hanya dari satu pilihan saja. Biasanya disediakan beberapa kursi untuk pilihan ke-2 dan ke-3. Jumlah kursi pilihan ke-1 tentu yang paling besar. Dan biasanya, jumlah kursi yang disediakan untuk pilihan ke-3 selalu yang paling sedikit. Mengenai komposisi masing-masing kursi berapa prosentasenya, masing-masing prodi di setiap PTN berbeda-beda kebijakannya.

Anda mau lintas jurusan di SNMPTN?

Maksudnya lintas jurusan disini adalah murid jurusan IPA yang ingin masuk rumpun soshum (IPS). Murid IPS biasanya tidak bisa lintas jurusan ke rumpun saintek (IPA) di jalur SNMPTN. Anda wajib membaca ketentuan yang berlaku pada masing-masing PTN di laman PTN yang anda pilih. Mekanisme/proses seleksi SNMPTN merupakan ranah masing-masing PTN dengan tetap memperhatikan aturan dan kriteria seleksi nasional serta kriteria yang ditetapkan oleh masing-masing PTN. Perlu diketahui juga oleh anda, pihak prodi juga memiliki kewenangan untuk menentukan aturan terkait hal ini. Jadi, sangat mungkin terjadi, dalam satu universitas yang sama, ada prodi yang memperbolehkan lintas jurusan, dan ada prodi lain yang tidak boleh memperbolehkan.

Atau anda dapat hubungi Call Center PTN yang anda tuju. Sekali lagi cari jawabannya dari sumber resmi yang ada.

Ok,semoga info tadi bisa membantu PEJUANG PTN yang ingin lulus dan masuk PTN duluan lewat jalur SNMPTN. Pilihlah jurusan dan kampus PTN berdasarkan kapasitas kamu dan juga memperhatikan factor-faktor yang sudah saya jelaskan. Tetap fokus belajar dan terus meningkatkan nilai serta rajin berdiskusi dengan guru BK dan orangtua. Semoga PEJUANG PTN bisa lulus dan masuk UI atau PTN yang lain.

Mau Lulus dan menjadi mahasiswa/I PTN? Yuk join di bimbel lavender..

Salam sukses Lulus SNMPTN 2019,

Kak wim

Bimbel Lavender

www.bimbellavender.com

error: Content is protected !!