Setiap tahun, ribuan peserta UTBK SNBT mencari satu hal yang sama: passing grade. Banyak yang bertanya, “Kalau nilai UTBK saya di atas passing grade, apakah pasti lolos?” atau “Jurusan ini passing grade-nya berapa?”.
Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut berangkat dari konsep yang keliru.
Dalam sistem SNBT (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes) yang berlaku saat ini, passing grade bukanlah patokan resmi. Bahkan, secara teknis, passing grade tidak pernah benar-benar ada. Namun mengapa istilah ini tetap hidup dan dipercaya oleh banyak peserta?
- Apa Itu Passing Grade dan Mengapa Banyak Dipercaya?
- Sistem UTBK SNBT Tidak Menggunakan Nilai Ambang Batas
- Cara Sebenarnya PTN Menyeleksi Peserta UTBK
- Mengapa Banyak Peserta Gagal Meski Nilainya “Di Atas Passing Grade”?
- Lalu, Apa yang Seharusnya Dipahami Peserta SNBT?
- Kesimpulan: Passing Grade SNBT Bukan Penentu, Cara Berpikir yang Menentukan
Apa Itu Passing Grade dan Mengapa Banyak Dipercaya?
Secara sederhana, passing grade sering dipahami sebagai nilai minimal yang harus dicapai agar bisa lolos ke jurusan tertentu. Konsep ini populer sejak era SNMPTN dan SBMPTN lama, ketika sistem seleksi masih relatif sederhana dan berbasis skor mentah.
Masalahnya, di era UTBK SNBT modern, sistem seleksi sudah berubah secara fundamental.
Passing grade yang beredar di internet biasanya:
- Dibuat oleh lembaga atau individu tertentu
- Berdasarkan rata-rata nilai tahun sebelumnya
- Bukan data resmi dari panitia SNPMB
- Tidak memperhitungkan dinamika peserta di tahun berjalan
Dengan kata lain, passing grade hanyalah perkiraan statistik, bukan standar kelulusan.
Sistem UTBK SNBT Tidak Menggunakan Nilai Ambang Batas
Hal paling penting yang perlu dipahami peserta adalah ini:
Tidak ada nilai minimal resmi UTBK yang menjamin kelulusan.
PTN tidak menetapkan angka tertentu seperti “minimal 600” atau “harus di atas 700” untuk meloloskan peserta. Yang digunakan adalah peringkat relatif antar peserta dalam satu program studi.
Artinya:
- Nilai tinggi tidak otomatis lolos
- Nilai lebih rendah masih bisa lolos, tergantung kondisi persaingan
Inilah alasan utama mengapa passing grade tidak bisa dijadikan pegangan mutlak.
Cara Sebenarnya PTN Menyeleksi Peserta UTBK
Untuk memahami mengapa passing grade adalah mitos, kita perlu melihat mekanisme seleksi yang sebenarnya.
1. UTBK Menggunakan Sistem Skor Terstandarisasi (IRT)
Nilai UTBK tidak sekadar dihitung dari jumlah soal benar. Sistem yang digunakan adalah Item Response Theory (IRT), yang mempertimbangkan:
- Tingkat kesulitan soal
- Pola jawaban peserta
- Konsistensi kemampuan
Akibatnya:
- Dua peserta dengan jumlah benar yang sama bisa mendapat skor berbeda
- Skor UTBK tidak bisa dibandingkan secara sederhana
Ini membuat konsep passing grade menjadi semakin tidak relevan.
Mau belajar UTBK SNBT? Yuk persiapan di Bimbel Lavender
2. Seleksi Bersifat Kompetitif, Bukan Absolut
PTN menyeleksi peserta berdasarkan peringkat skor UTBK dalam satu jurusan, bukan berdasarkan apakah peserta “melewati” nilai tertentu.
Contohnya:
- Daya tampung jurusan: 50 orang
- Pendaftar: 1.500 orang
- Maka yang diterima adalah 50 peserta dengan skor terbaik, berapa pun nilainya
Jika tahun tersebut pesertanya sangat kuat, maka:
- Skor “tinggi” tahun lalu bisa jadi tidak cukup
- Passing grade versi internet menjadi menyesatkan
3. Setiap Tahun Dinamikanya Berbeda
Passing grade sering diambil dari data tahun sebelumnya, padahal kondisi SNBT selalu berubah:
- Jumlah peserta meningkat
- Minat jurusan berubah
- Kebijakan seleksi diperbarui
- Distribusi kemampuan peserta berbeda
Karena itu, passing grade tidak pernah benar-benar stabil dan tidak bisa dipakai sebagai acuan pasti.
Mengapa Banyak Peserta Gagal Meski Nilainya “Di Atas Passing Grade”?
Ini pertanyaan yang sering muncul dan menjadi sumber kekecewaan.
Beberapa penyebab utamanya:
- Passing grade yang dijadikan acuan bukan data resmi
- Peserta lain di tahun tersebut lebih kompetitif
- Distribusi skor UTBK tahun berjalan berbeda
- Strategi pemilihan jurusan kurang realistis
Kondisi ini menunjukkan bahwa fokus pada passing grade justru berbahaya, karena bisa membuat peserta:
- Terlalu percaya diri
- Salah membaca peluang
- Mengabaikan strategi jangka panjang
Lalu, Apa yang Seharusnya Dipahami Peserta SNBT?
Daripada mengejar angka passing grade, ada beberapa hal yang jauh lebih penting.
1. Fokus pada Optimalisasi Skor SNBT, Bukan Target Angka
Karena seleksi bersifat relatif, tujuan terbaik peserta adalah memaksimalkan performa, bukan mengejar skor tertentu.
Peserta tidak pernah tahu:
- Seberapa kuat pesaing tahun ini
- Skor berapa yang akan menjadi batas lolos
Yang bisa dikontrol hanyalah kualitas pengerjaan sendiri.
2. Pahami Struktur Tes SNBT dan Bobotnya
UTBK SNBT menguji penalaran dan kemampuan berpikir, bukan hafalan. Peserta yang memahami:
- Karakter soal PU, PPU, dan PBM
- Strategi manajemen waktu
- Pola kesulitan soal
akan memiliki peluang lebih besar dibanding peserta yang hanya berorientasi pada angka.
3. Gunakan Passing Grade Sebagai Referensi Kasar (Jika Perlu)
Jika pun ingin melihat passing grade, gunakan hanya sebagai:
- Gambaran tingkat persaingan
- Bukan patokan kelulusan
- Bukan sumber keputusan utama
Keputusan belajar dan strategi tidak boleh bergantung pada passing grade semata.
Kesimpulan: Passing Grade SNBT Bukan Penentu, Cara Berpikir yang Menentukan
Passing grade SNBT disebut mitos bukan karena sepenuhnya salah, tetapi karena sering disalahpahami. Dalam sistem UTBK SNBT:
- Tidak ada nilai aman
- Tidak ada batas resmi
- Tidak ada jaminan selain performa terbaik saat ujian
Peserta yang memahami cara kerja seleksi akan:
- Lebih realistis
- Lebih siap mental
- Lebih fokus pada strategi yang benar
Pada akhirnya, UTBK SNBT bukan soal melampaui angka tertentu, tetapi tentang bersaing secara cerdas dalam sistem yang kompetitif.
Kak Sa’ad
Arif Saadilah adalah seorang alumnus Universitas Indonesia (UI) yang telah menyelesaikan gelar Sarjana (S1) dalam bidang Fisika dan gelar Magister (S2) dalam bidang Teknik Metalurgi Material di UI. Sejak tahun 2011, Arif Saadilah telah berperan sebagai pengajar di berbagai bimbingan belajar di seantero Depok, utamanya bimbingan masuk PTN. Namun sejak 2016 – 2020 memutuskan bergabung menjadi pembimbing kelas (pendamping sekaligus pengajar di kelas Amazing Camp) Bimbingan Belajar Lavender (Bimbel Lavender) dalam mata pelajaran Fisika, Materi SNBT (Pengetahuan Kuantitatif dan Penalaran Matematika), dan Matematika Dasar.

